Menu

Dark Mode
Ratusan Pemimpin Pelajar Muda Se-Jabodetabek Gegaskan Kepemimpinan Islami di Ramadhan Leadership Summit UIKA Bogor! Pengkhianatan Pertemanan Berujung Tragedi: Kisah Remaja SMPN 26 Bandung yang Direkayasa Jadi Korban Penculikan Gubernur Sumbar HEBOH! Larang Anak di Bawah 16 Tahun Menggunakan Medsos: “Jangan Sampai Rusak Generasi Bangsa!” Dari Pelantikan ke Pergerakan: KMHB UIN Bandung Resmi Awali Journey 2025–2026 UI Nyatakan Demonstran Viral yang Menunjuk Polisi Bukan Mahasiswa Mereka Kampus Bukan Alat Kekuasaan: Pesan Keras dari Sikap BEM UGM

Pendidikan

Pendidikan Karakter: Antara Slogan dan Kenyataan di Sekolah

badge-check


					Sumber foto: IFH/Maulady Virdausy Fahmy Perbesar

Sumber foto: IFH/Maulady Virdausy Fahmy

KALAMOEDA.COM, Bandung – Hampir setiap sekolah di Indonesia, pendidikan karakter menjadi bagian penting dalam visi dan misi mereka. Ungkapan seperti “membentuk generasi yang berakhlak mulia” atau “menanamkan nilai kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab” seringkali terpampang jelas di dinding-dinding sekolah.

Nilai-nilai tersebut belum benar-benar hidup dalam keseharian siswa pada umumnya. Pendidikan karakter hanya berhenti pada slogan sekolah dan belum menjadi bagian nyata dari budaya pelajar yang ada di Indonesia.

Banyak guru dan siswa mengakui bahwa pendidikan karakter kerap kali hanya menjadi program formalitas. Kegiatan ekstrakurikuler tentang moral dan budi pekerti, ceramah tentang nilai-nilai luhur, atau buku pedoman yang membahas karakter sering dijalankan secara seremonial.

Setelah itu, rutinitas belajar dan budaya sekolah kembali ke pola lama yang lebih menekankan nilai akademis dan disiplin ketat tanpa menyentuh aspek emosional dan sosial siswa.

“Saya sering merasa nilai kejujuran atau empati diajarkan hanya saat ada acara khusus, tapi sehari-hari di kelas, persaingan antar siswa justru lebih diutamakan,” ujar Rina, seorang pelajar SMA di Jakarta.

Terlebih jika ada masalah bullying atau hal-hal yang tidak adil dalam siswa itu jarang tersohor. “Kalau ada masalah bullying atau ketidakadilan, jarang sekali dibahas serius,” lanjutnya.

Sementara itu, guru-guru juga menghadapi tantangan dalam mengintegrasikan pendidikan karakter secara nyata. Beban kurikulum yang padat, tekanan pada pencapaian nilai ujian, dan kurangnya pelatihan khusus tentang cara mengajarkan karakter membuat implementasi nilai-nilai karakter terabaikan.

Beberapa ahli pakar pendidikan juga menekankan pentingnya pendidikan karakter yang melekat dalam kehidupan sehari-hari di sekolah.

“Nilai-nilai karakter harus diintegrasikan dalam metode pengajaran, interaksi guru-siswa, hingga kebijakan sekolah. Hanya dengan begitu karakter siswa bisa tumbuh secara alami,” kata Dr. Rini Wulandari, pakar Psikologi pendidikan.

Masih maraknya bullying dan kecurangan menunjukkan pendidikan karakter belum sepenuhnya hidup. Sekolah perlu lebih dari sekadar slogan diperlukan aksi nyata untuk membentuk siswa yang beretika dan berintegritas.

Farah Farihah telah berkontribusi pada penulisan ini.

Sumber: Jbasic.org, detik.com, gorontalo.kemenag.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

UI Nyatakan Demonstran Viral yang Menunjuk Polisi Bukan Mahasiswa Mereka

3 March 2026 - 15:43 WIB

Disdik DKI Tetapkan Batas Akhir Kegiatan Belajar Selama Ramadan Pukul 14.00 WIB

23 February 2026 - 10:38 WIB

3 Pelajar Bandung Juarai “Change It Challenge” Besutan Monash University

12 February 2026 - 13:30 WIB

Ribuan pelajar terindikasi memiliki masalah kesehatan jiwa.

10 February 2026 - 16:01 WIB

Kemendikti Saintek Bangun Sekolah Unggulan Garuda untuk Siswa Berprestasi Tinggi

27 November 2025 - 10:31 WIB

Trending on Pendidikan