Menu

Dark Mode
Ratusan Pemimpin Pelajar Muda Se-Jabodetabek Gegaskan Kepemimpinan Islami di Ramadhan Leadership Summit UIKA Bogor! Pengkhianatan Pertemanan Berujung Tragedi: Kisah Remaja SMPN 26 Bandung yang Direkayasa Jadi Korban Penculikan Gubernur Sumbar HEBOH! Larang Anak di Bawah 16 Tahun Menggunakan Medsos: “Jangan Sampai Rusak Generasi Bangsa!” Dari Pelantikan ke Pergerakan: KMHB UIN Bandung Resmi Awali Journey 2025–2026 UI Nyatakan Demonstran Viral yang Menunjuk Polisi Bukan Mahasiswa Mereka Kampus Bukan Alat Kekuasaan: Pesan Keras dari Sikap BEM UGM

Opini

Institusi Pendidikan Masih Buta Arah: Sekolah Lebih Sibuk Mencetak Nilai Daripada Manusia

badge-check


					Sumber foto: Pinterest.com Perbesar

Sumber foto: Pinterest.com

KALAMOEDA.COM, Bandung – Kita hidup di zaman di mana anak-anak diajarkan untuk menghafal rumus, tapi tidak tahu bagaimana memahami diri sendiri. Setiap pagi, mereka berdiri tegap menyanyikan lagu kebangsaan, lalu duduk selama berjam-jam mengerjakan soal demi soal yang tidak pernah benar-benar menjelaskan arti hidup.

Pendidikan di Indonesia masih terjebak dalam pola pikir pabrik: menghasilkan siswa seragam dengan standar nilai yang ditentukan dari meja birokrasi. Mereka dicetak untuk mengikuti ujian nasional, bukan untuk bertanya, berpikir kritis, atau memahami dunia. Anak-anak dinilai dari angka, bukan dari keberanian mereka menyuarakan pendapat atau ketulusan mereka membantu sesama.

Di desa, sekolah masih berlantai tanah. Di kota, siswa tertekan oleh kurikulum padat dan tuntutan prestasi yang menyesakkan dada. Ini bukan hanya masalah anggaran, ini soal arah.

Mengapa kita masih menyebut “berprestasi” hanya untuk mereka yang juara olimpiade matematika? Bagaimana dengan anak yang diam-diam menjaga adiknya setiap pagi agar sang ibu bisa bekerja? Bukankah itu juga bentuk kecerdasan emosional dan tanggung jawab?

Lalu, bagaimana mungkin kita berharap generasi ini akan memimpin dengan empati, jika dari kecil mereka hanya dibesarkan untuk bersaing dan menjadi yang paling atas?

Pendidikan kita butuh revolusi, bukan sekadar reformasi. Kurikulum harus dibongkar, bukan ditambal. Guru perlu dibebaskan dari tekanan administratif yang membunuh kreativitas. Dan yang paling penting, kita harus berhenti memaksa anak-anak menjadi cerdas menurut versi negara, dan mulai mendengarkan versi mereka tentang hidup.

Karena jika kita terus membiarkan sistem ini berjalan seperti sekarang, kita bukan sedang mendidik generasi pemimpin masa depan. Tetapi kita sedang mencetak manusia-manusia kehilangan arah, yang hanya tahu cara lulus, tapi tidak tahu untuk apa mereka hidup.

Najwa Putri Novyanti telah berkontribusi pada penulisan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Jika 116 Kasus Belum Cukup Menggerakkan Kita, Lalu Berapa Lagi?

26 February 2026 - 10:09 WIB

Mengungkap Akar Masalah Bencana Banjir Di Pulau Sumatera : Ketika Bencana Ekologis Dibangun Pelan-Pelan oleh Kebijakan Sendiri

9 December 2025 - 10:16 WIB

Rawannya Penggunaan Narkoba Dikalangan Remaja

30 October 2025 - 17:37 WIB

Bubarkan DPR: Solusi Rakyat atau Masalah Baru?

6 October 2025 - 18:00 WIB

TNI Di Kampus: Sinergi Ilmu atau Ancaman Kebebasan Akademik?

1 October 2025 - 13:29 WIB

Trending on Opini