KALAMOEDA.COM, Bandung – Kita hidup di zaman di mana anak-anak diajarkan untuk menghafal rumus, tapi tidak tahu bagaimana memahami diri sendiri. Setiap pagi, mereka berdiri tegap menyanyikan lagu kebangsaan, lalu duduk selama berjam-jam mengerjakan soal demi soal yang tidak pernah benar-benar menjelaskan arti hidup.
Pendidikan di Indonesia masih terjebak dalam pola pikir pabrik: menghasilkan siswa seragam dengan standar nilai yang ditentukan dari meja birokrasi. Mereka dicetak untuk mengikuti ujian nasional, bukan untuk bertanya, berpikir kritis, atau memahami dunia. Anak-anak dinilai dari angka, bukan dari keberanian mereka menyuarakan pendapat atau ketulusan mereka membantu sesama.
Di desa, sekolah masih berlantai tanah. Di kota, siswa tertekan oleh kurikulum padat dan tuntutan prestasi yang menyesakkan dada. Ini bukan hanya masalah anggaran, ini soal arah.
Mengapa kita masih menyebut “berprestasi” hanya untuk mereka yang juara olimpiade matematika? Bagaimana dengan anak yang diam-diam menjaga adiknya setiap pagi agar sang ibu bisa bekerja? Bukankah itu juga bentuk kecerdasan emosional dan tanggung jawab?
Lalu, bagaimana mungkin kita berharap generasi ini akan memimpin dengan empati, jika dari kecil mereka hanya dibesarkan untuk bersaing dan menjadi yang paling atas?
Pendidikan kita butuh revolusi, bukan sekadar reformasi. Kurikulum harus dibongkar, bukan ditambal. Guru perlu dibebaskan dari tekanan administratif yang membunuh kreativitas. Dan yang paling penting, kita harus berhenti memaksa anak-anak menjadi cerdas menurut versi negara, dan mulai mendengarkan versi mereka tentang hidup.
Karena jika kita terus membiarkan sistem ini berjalan seperti sekarang, kita bukan sedang mendidik generasi pemimpin masa depan. Tetapi kita sedang mencetak manusia-manusia kehilangan arah, yang hanya tahu cara lulus, tapi tidak tahu untuk apa mereka hidup.
Najwa Putri Novyanti telah berkontribusi pada penulisan ini.







