Menu

Dark Mode
Ratusan Pemimpin Pelajar Muda Se-Jabodetabek Gegaskan Kepemimpinan Islami di Ramadhan Leadership Summit UIKA Bogor! Pengkhianatan Pertemanan Berujung Tragedi: Kisah Remaja SMPN 26 Bandung yang Direkayasa Jadi Korban Penculikan Gubernur Sumbar HEBOH! Larang Anak di Bawah 16 Tahun Menggunakan Medsos: “Jangan Sampai Rusak Generasi Bangsa!” Dari Pelantikan ke Pergerakan: KMHB UIN Bandung Resmi Awali Journey 2025–2026 UI Nyatakan Demonstran Viral yang Menunjuk Polisi Bukan Mahasiswa Mereka Kampus Bukan Alat Kekuasaan: Pesan Keras dari Sikap BEM UGM

Opini

Minimnya Lapangan Pekerjaan, Ancaman Nyata Bagi Generasi Muda

badge-check


					Sumber foto: Almy.com Perbesar

Sumber foto: Almy.com

KALAMOEDA.COM, Bandung – Minimnya ketersediaan lapangan pekerjaan di Indonesia kian menjadi isu yang meresahkan, terutama bagi generasi muda yang baru lulus dari bangku pendidikan. Di tengah derasnya pertumbuhan jumlah lulusan tiap tahunnya, fakta di lapangan menunjukkan bahwa kesempatan kerja tidak sebanding dengan kebutuhan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka pengangguran terbuka pada usia 20–24 tahun masih menduduki posisi tertinggi dibanding kelompok usia lainnya. Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Banyak lulusan sarjana yang mengantongi ijazah, namun tidak memiliki keterampilan praktis yang dibutuhkan oleh industri.

Tak hanya itu, industri dalam negeri juga dinilai belum mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Banyak sektor usaha masih mengalami stagnasi atau bahkan penurunan, terutama pasca pandemi. Di sisi lain, transformasi digital menyebabkan pergeseran kebutuhan tenaga kerja ke bidang teknologi, yang belum tentu bisa diikuti oleh seluruh pencari kerja.

Ironisnya, program pemerintah seperti kartu pra kerja atau pelatihan keterampilan belum memberikan hasil signifikan. Sebagian besar peserta pelatihan kesulitan mendapatkan pekerjaan tetap meski telah mengikuti berbagai pelatihan.

Solusi jangka panjang harus dimulai dari pembenahan kurikulum pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan industri masa kini. Selain itu, insentif kepada pelaku usaha, terutama UMKM dan sektor industri kreatif, perlu diperkuat agar mereka mampu membuka lebih banyak lapangan kerja. Tak kalah penting, pengembangan wirausaha muda harus didukung dengan kemudahan akses permodalan dan pendampingan.

Kurangnya lapangan pekerjaan bukan sekadar angka statistik, tapi masalah sosial yang berpotensi menimbulkan ketimpangan ekonomi, meningkatnya kriminalitas, hingga menurunnya kepercayaan generasi muda terhadap masa depan mereka. Jika tidak segera ditangani, krisis ketenagakerjaan ini bisa menjadi bom waktu bagi stabilitas bangsa.

Julio Fabian Putra telah berkontribusi pada penulisan ini

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Jika 116 Kasus Belum Cukup Menggerakkan Kita, Lalu Berapa Lagi?

26 February 2026 - 10:09 WIB

Mengungkap Akar Masalah Bencana Banjir Di Pulau Sumatera : Ketika Bencana Ekologis Dibangun Pelan-Pelan oleh Kebijakan Sendiri

9 December 2025 - 10:16 WIB

Rawannya Penggunaan Narkoba Dikalangan Remaja

30 October 2025 - 17:37 WIB

Bubarkan DPR: Solusi Rakyat atau Masalah Baru?

6 October 2025 - 18:00 WIB

TNI Di Kampus: Sinergi Ilmu atau Ancaman Kebebasan Akademik?

1 October 2025 - 13:29 WIB

Trending on Opini