KALAMOEDA.COM, Bandung – Generasi Z, adalah sekelompok manusia yang lahir di tahun 1997 sampai tahun 2012 dan dikenal sebagai generasi yang paling rawan mengalami depresi, Benarkah demikian?
Menurut penelitian Fatiha Arrahmi Thahi dan rekan-rekannya dalam Jurnal Kesehatan Mental di Era Generasi Z dalam studi kasus SMP Negeri 36 Medan menyebutkan hanya ada 45% Generasi Z yang memiliki kesehatan mental baik atau sangat baik. Selain itu, Generasi Z juga lebih rentan mengalami gangguan kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, bipolar, dan ADHD.
Selain itu, Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) pada penelitiannya, menemukan hampir 28% remaja akhir usia 15-19 tahun mengalami gejala depresi.
Beban pendidikan, tidak jelasnya arah hidup dan penggunaan media sosial yang menjadi penyebab dominan dari depresi. Mereka yang mengalami depresi biasanya mencari tempat aman atau pelarian ke media sosial sebagai ruang eskpresi mereka, namun bukannya aman justru itu memperburuk kondisi mereka.
Media sosial menjadi sumber yang paling menyakitkan bagi mereka. Karena ketika kita para Gen Z sering melihat kehidupan orang lain yang lebih dari sempurna dari kita pasti kita selalu merasa tidak cukup. Tidak cukup cantik, pintar, serta tidak cukup dalam segala hal, dan semua hal itulah yang membuat kita merasa insecure atau tidak percaya diri dengan apa yang kita punya saat ini, bahkan semua itu bisa memicu gejala depresi.
Banyak orang yang selalu menyepelekan depresi ini. kurang iman, lemah dan yang lainnya. Ahli Psikiater, Andreas Kurniawan juga menyebutkan orang depresi itu bukan tidak mau senang, bukan tidak mau berjuang juga. Melainkan orang yang depresi itu secara biologi otaknya memang kesulitan untuk merasakan semua kesenangan itu.
Dari pernyataan ini juga sangat menjelaskan bahwa depresi itu tidak cukup dengan hanya positive thinking atau hanya sekedar ceramah motivasi semata. Orang-orang yang mengalami depresi butuh dukungan yang tepat dari keluarga, lingkungan, dan tenaga profesional.
Permasalahan yang dihadapi Generasi Z saat ini semakin kompleks dan tidak bisa dianggap remeh. Mereka bukan generasi yang lemah, melainkan tumbuh dalam tekanan hidup yang tinggi, harapan sosial yang besar, serta ketidakpastian masa depan akibat kondisi sosial dan ekonomi yang kurang stabil.
Mengkritik tanpa memahami hanya akan memperburuk kondisi mental mereka. Generasi ini tidak sekadar membutuhkan kata-kata semangat, tetapi juga kehadiran orang-orang yang bersedia mendengarkan tanpa menghakimi.
Sering kali, mereka hanya butuh tempat yang aman untuk mencurahkan isi hati. Jangan tunggu sampai mereka terjatuh lebih dalam untuk mulai peduli.
Eriska Yani Safitri telah berkontribusi pada penulisan ini







