Menu

Dark Mode
Ratusan Pemimpin Pelajar Muda Se-Jabodetabek Gegaskan Kepemimpinan Islami di Ramadhan Leadership Summit UIKA Bogor! Pengkhianatan Pertemanan Berujung Tragedi: Kisah Remaja SMPN 26 Bandung yang Direkayasa Jadi Korban Penculikan Gubernur Sumbar HEBOH! Larang Anak di Bawah 16 Tahun Menggunakan Medsos: “Jangan Sampai Rusak Generasi Bangsa!” Dari Pelantikan ke Pergerakan: KMHB UIN Bandung Resmi Awali Journey 2025–2026 UI Nyatakan Demonstran Viral yang Menunjuk Polisi Bukan Mahasiswa Mereka Kampus Bukan Alat Kekuasaan: Pesan Keras dari Sikap BEM UGM

Opini

Sejatinya Wanita Sebagai Tulang Punggung atau Tulang Rusuk?

badge-check


					Ilustrasi. Sumber: Pinterest.com Perbesar

Ilustrasi. Sumber: Pinterest.com

KALAMOEDA.COM, Bandung – Di masyarakat kita, perempuan masih sering didefinisikan sebagai “tulang rusuk”, posisi yang konon lebih lembut, lebih tersembunyi, dan tugasnya melengkapi laki-laki. Namun, realitas sosial hari ini memaksa banyak perempuan berubah menjadi “tulang punggung”. Penyangga utama ekonomi keluarga, bahkan masyarakat. Lantas, sebenarnya perempuan itu harus jadi apa? Tulang rusuk yang dirawat atau tulang punggung yang dibebani?

Data menunjukkan, beban ganda yang dipikul perempuan semakin nyata. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) 2023, sekitar 47,8% perempuan di Indonesia masuk dalam angkatan kerja. Dari jumlah itu, sebagian besar tetap dibebani urusan domestik. Artinya, meskipun perempuan bekerja, mereka tetap harus mengurus rumah, anak, dan pasangan, yang seolah menjadi “kewajiban alami”.

Masalahnya, hak perempuan tidak berkembang secepat peran yang dibebankan padanya. Masih banyak perempuan yang tidak punya hak penuh atas pengambilan keputusan dalam rumah tangga. Banyak yang tidak punya akses ekonomi mandiri. Banyak pula yang tidak mendapatkan dukungan emosional meski telah berjuang sekuat tenaga di dua dunia: publik dan domestik.

Sementara itu, laki-laki justru lebih mudah mendapat pengakuan hanya karena memenuhi satu peran: sebagai pencari nafkah. Ketika seorang suami pulang kerja dan berkata, “Aku capek,” itu dimaklumi. Tapi ketika seorang istri berkata hal yang sama setelah bekerja dan mengurus rumah, sering kali dianggap sebagai bentuk keluhan atau kurang bersyukur.

Ironisnya, banyak narasi sosial yang masih menggambarkan perempuan ideal sebagai sosok yang “kuat, sabar, lembut, dan tidak banyak menuntut”. Ini memperkuat beban mental yang dialami perempuan. Bahwa mereka harus kuat, tapi tidak boleh menunjukkan lelah. Harus mampu segalanya, tapi tetap tidak boleh melebihi laki-laki.

Saya merasa perlu menyuarakan hal ini. Karena suara perempuan tidak boleh lagi dianggap pelengkap. Kita tidak sedang berkompetisi dengan laki-laki, kita hanya ingin hak kita tumbuh sebanding dengan peran yang kita jalankan. Sebagai generasi muda, kita punya tanggung jawab untuk mendobrak ketimpangan ini. Karena dunia yang adil bukan berarti membalikkan posisi laki-laki dan perempuan, tetapi menciptakan ruang yang setara bagi keduanya. Di mana laki-laki boleh lelah, dan perempuan juga boleh didengar.

Jadi, sejatinya perempuan itu tulang rusuk atau tulang punggung?

Mungkin kita tak perlu memilih.
Karena yang lebih penting dari posisi adalah penghargaan.
Dan penghargaan lahir dari pemahaman bahwa beban dan hak harus berjalan seimbang.

Najwa Putri Novyanti telah berkontribusi pada penulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Jika 116 Kasus Belum Cukup Menggerakkan Kita, Lalu Berapa Lagi?

26 February 2026 - 10:09 WIB

Mengungkap Akar Masalah Bencana Banjir Di Pulau Sumatera : Ketika Bencana Ekologis Dibangun Pelan-Pelan oleh Kebijakan Sendiri

9 December 2025 - 10:16 WIB

Rawannya Penggunaan Narkoba Dikalangan Remaja

30 October 2025 - 17:37 WIB

Bubarkan DPR: Solusi Rakyat atau Masalah Baru?

6 October 2025 - 18:00 WIB

TNI Di Kampus: Sinergi Ilmu atau Ancaman Kebebasan Akademik?

1 October 2025 - 13:29 WIB

Trending on Opini