KALAMOEDA.COM, Bandung – Sekolah sering memuji pelajar yang aktif. Mereka ingin siswa kritis, vokal, dan penuh ide. Tapi ironisnya, banyak dari kami yang justru ditekan ketika menyuarakan sesuatu yang berbeda dari ‘pakem’ sekolah.
“Jangan debat sama guru!”
“Udah, kamu ikut aja dulu!”
“Gaya kamu sok tahu banget, ya?”
Komentar semacam itu mungkin terdengar sepele bagi sebagian orang. Tapi bagi pelajar yang sedang tumbuh dan belajar percaya diri, kata-kata itu seperti palu yang memukul habis semangat. Kami ingin aktif, tapi seolah hanya boleh kalau sesuai dengan apa yang disukai guru atau sistem. Kami boleh angkat tangan, tapi hanya untuk menjawab bukan untuk bertanya yang dianggap ‘nyeleneh’.
Sekolah sering bilang ingin mencetak generasi yang kritis. Tapi bagaimana bisa, jika saat siswa mencoba berpikir kritis, mereka justru dianggap membangkang? Ketika kami mengajukan pendapat atau menolak sesuatu yang kami rasa tidak adil, kami dicap tidak sopan. Padahal kami hanya belajar menyuarakan diri, bukankah itu inti dari pendidikan?
Pelajar tidak butuh panggung besar untuk bersuara. Cukup didengarkan dengan tulus. Kami tidak ingin jadi ‘pemberontak’. Kami hanya ingin jadi bagian dari dialog, bukan obyek yang pasif menerima.
Sudah saatnya sekolah seperti para guru, sistem, dan semua yang ada di dalamnya menyadari bahwa pelajar bukan hanya murid yang harus tunduk. Kami manusia. Kami punya pikiran, punya logika, dan punya perasaan.
Jika ingin kami aktif, maka bersiaplah untuk mendengar kami, meskipun kadang suara kami berbeda.
Najwa Putri Novyanti telah berkontribusi pada penulisan ini







