Menu

Dark Mode
Ratusan Pemimpin Pelajar Muda Se-Jabodetabek Gegaskan Kepemimpinan Islami di Ramadhan Leadership Summit UIKA Bogor! Pengkhianatan Pertemanan Berujung Tragedi: Kisah Remaja SMPN 26 Bandung yang Direkayasa Jadi Korban Penculikan Gubernur Sumbar HEBOH! Larang Anak di Bawah 16 Tahun Menggunakan Medsos: “Jangan Sampai Rusak Generasi Bangsa!” Dari Pelantikan ke Pergerakan: KMHB UIN Bandung Resmi Awali Journey 2025–2026 UI Nyatakan Demonstran Viral yang Menunjuk Polisi Bukan Mahasiswa Mereka Kampus Bukan Alat Kekuasaan: Pesan Keras dari Sikap BEM UGM

Opini

Kami disuruh Aktif, Tapi Diminta Diam Bila Tak Sepaham!

badge-check

KALAMOEDA.COM, Bandung – Sekolah sering memuji pelajar yang aktif. Mereka ingin siswa kritis, vokal, dan penuh ide. Tapi ironisnya, banyak dari kami yang justru ditekan ketika menyuarakan sesuatu yang berbeda dari ‘pakem’ sekolah.

“Jangan debat sama guru!”
“Udah, kamu ikut aja dulu!”
“Gaya kamu sok tahu banget, ya?”

Komentar semacam itu mungkin terdengar sepele bagi sebagian orang. Tapi bagi pelajar yang sedang tumbuh dan belajar percaya diri, kata-kata itu seperti palu yang memukul habis semangat. Kami ingin aktif, tapi seolah hanya boleh kalau sesuai dengan apa yang disukai guru atau sistem. Kami boleh angkat tangan, tapi hanya untuk menjawab bukan untuk bertanya yang dianggap ‘nyeleneh’.

Sekolah sering bilang ingin mencetak generasi yang kritis. Tapi bagaimana bisa, jika saat siswa mencoba berpikir kritis, mereka justru dianggap membangkang? Ketika kami mengajukan pendapat atau menolak sesuatu yang kami rasa tidak adil, kami dicap tidak sopan. Padahal kami hanya belajar menyuarakan diri, bukankah itu inti dari pendidikan?

Pelajar tidak butuh panggung besar untuk bersuara. Cukup didengarkan dengan tulus. Kami tidak ingin jadi ‘pemberontak’. Kami hanya ingin jadi bagian dari dialog, bukan obyek yang pasif menerima.

Sudah saatnya sekolah seperti para guru, sistem, dan semua yang ada di dalamnya menyadari bahwa pelajar bukan hanya murid yang harus tunduk. Kami manusia. Kami punya pikiran, punya logika, dan punya perasaan.

Jika ingin kami aktif, maka bersiaplah untuk mendengar kami, meskipun kadang suara kami berbeda.

Najwa Putri Novyanti telah berkontribusi pada penulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Jika 116 Kasus Belum Cukup Menggerakkan Kita, Lalu Berapa Lagi?

26 February 2026 - 10:09 WIB

Mengungkap Akar Masalah Bencana Banjir Di Pulau Sumatera : Ketika Bencana Ekologis Dibangun Pelan-Pelan oleh Kebijakan Sendiri

9 December 2025 - 10:16 WIB

Rawannya Penggunaan Narkoba Dikalangan Remaja

30 October 2025 - 17:37 WIB

Bubarkan DPR: Solusi Rakyat atau Masalah Baru?

6 October 2025 - 18:00 WIB

TNI Di Kampus: Sinergi Ilmu atau Ancaman Kebebasan Akademik?

1 October 2025 - 13:29 WIB

Trending on Opini