Menu

Dark Mode
Ratusan Pemimpin Pelajar Muda Se-Jabodetabek Gegaskan Kepemimpinan Islami di Ramadhan Leadership Summit UIKA Bogor! Pengkhianatan Pertemanan Berujung Tragedi: Kisah Remaja SMPN 26 Bandung yang Direkayasa Jadi Korban Penculikan Gubernur Sumbar HEBOH! Larang Anak di Bawah 16 Tahun Menggunakan Medsos: “Jangan Sampai Rusak Generasi Bangsa!” Dari Pelantikan ke Pergerakan: KMHB UIN Bandung Resmi Awali Journey 2025–2026 UI Nyatakan Demonstran Viral yang Menunjuk Polisi Bukan Mahasiswa Mereka Kampus Bukan Alat Kekuasaan: Pesan Keras dari Sikap BEM UGM

Mahasiswa

Transportasi Andalan Mahasiswa, Tapi Apakah Efisien?

badge-check


					Sumber foto: Eriska Yani Safitri Perbesar

Sumber foto: Eriska Yani Safitri

KALAMOEDA.COM, Bandung – Bagi sebagian mahasiswa, Damri bukan hanya transportasi alternatif dari ojek online yang mahal. Selain tarifnya yang terjangkau, Damri juga pilihan solusi hemat di tengah kenaikan biaya hidup mahasiswa. Namun, dibalik itu semua, tak jarang mahasiswa mengeluhkan lamanya waktu menunggu dan kepadatan penumpang di dalamnya.

Lintang (Baleendah) mahasiswa semester empat di UIN Bandung, sering menggunakan Damri sejak awal kuliah. “Kalau mau pulang pasti naik Damri, soalnya cuma Rp.4.000 sampe ke terminal Leuwi Panjang, daripada menggunakan gojek kan mahal Rp.46.000,” Ungkapnya saat dikunjungi Kala Moeda, pada Rabu (4/6/2025).

Bagi Lintang Damri sangat membantu karena harganya sesuai kantong mahasiswa. Namun, ia juga mengeluhkan adanya kekurangan dari Damri tersebut, “Suka kesel sih kalo ngetem nya lama, terus kalo penumpang udah penuh malah dimasukin udah mah cape kan pulang kelas tuh,” Keluhnya.

Meskipun begitu Lintang tetap memilih Damri sebagai transportasi umum sehari-hari setiap pulang pergi kuliah. “Ya karena mau gimana lagi namanya juga murah pasti ada aja resikonya lah, naik ojol da mahal berkali-kali lipat,” Tambahnya.

Berbeda dengan Lintang, Aria (Buah Batu), mahasiswa lain yang pernah menggunakan Damri justru merasa Damri tidak tidak cocok untuk mahasiswa yang punya jadwal ketat.

“Dulu pernah nyoba naik, tapi kapok. Soalnya makin lama di jalan, terus jadwalnya ga nentu, kan harus berhenti dulu kalo ada penumpang jadi lama, jadi lebih pilih pake ojek sih walaupun lebih mahal juga,” Tuturnya ketika didatangi Kala Moeda, pada Rabu (4/6/2025).

Aria menyarankan bahwa jika Damri ingin jadi pilihan utama mahasiswa, layanan nya pun harus ditingkatkan lagi. “Kalau bisa disesuaikan lah dengan jadwal yang seharusnya gitu, jangan di jadwal adanya jam berapa terus baru lewat jam berapa gitu, mungkin kalo tepat waktu boleh lah dicoba lagi,” Tambahnya.

Para mahasiswa berharap pihak Damri meningkatkan fasilitasnya seperti tempat duduk yang lebih nyaman, pembatasan penumpang terutama di waktu padat dan durasi visit yang dipercepat.

Damri tetap menjadi transportasi andalan bagi mahasiswa, selain karena harganya yang terjangkau, pengeluaran uang mahasiswa menjadi lebih hemat, khususnya yang berkuliah di UIN Bandung. Namun demikian, mahasiswa berharap adanya peningkatan kualitas kecepatan supaya tidak hanya murah tetapi memberikan kenyamanan dan kelayakan juga saat digunakan.

Eriska Yani Safitri telah berkontribusi pada penulisan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Dari Pelantikan ke Pergerakan: KMHB UIN Bandung Resmi Awali Journey 2025–2026

4 March 2026 - 14:29 WIB

UI Nyatakan Demonstran Viral yang Menunjuk Polisi Bukan Mahasiswa Mereka

3 March 2026 - 15:43 WIB

Kampus Bukan Alat Kekuasaan: Pesan Keras dari Sikap BEM UGM

2 March 2026 - 16:08 WIB

PERMIAS Dorong Kunjungan Prabowo ke AS Berpihak pada Perlindungan WNI, Peran Diaspora, dan Kepentingan Nasional

23 February 2026 - 10:29 WIB

ORMABA VII Cetak Mahasiswa Berkarakter Islami dan Berjiwa Organisasi

19 February 2026 - 11:24 WIB

Trending on Mahasiswa