Menu

Dark Mode
Ratusan Pemimpin Pelajar Muda Se-Jabodetabek Gegaskan Kepemimpinan Islami di Ramadhan Leadership Summit UIKA Bogor! Pengkhianatan Pertemanan Berujung Tragedi: Kisah Remaja SMPN 26 Bandung yang Direkayasa Jadi Korban Penculikan Gubernur Sumbar HEBOH! Larang Anak di Bawah 16 Tahun Menggunakan Medsos: “Jangan Sampai Rusak Generasi Bangsa!” Dari Pelantikan ke Pergerakan: KMHB UIN Bandung Resmi Awali Journey 2025–2026 UI Nyatakan Demonstran Viral yang Menunjuk Polisi Bukan Mahasiswa Mereka Kampus Bukan Alat Kekuasaan: Pesan Keras dari Sikap BEM UGM

Opini

Mengembalikan Akal dan Nurani di Tengah Bising Digital

badge-check


					Kemajuan teknologi (ilustrasi).
Sumber Foto: Pinterest
Perbesar

Kemajuan teknologi (ilustrasi). Sumber Foto: Pinterest

KALAMOEDA.COM, Bandung – Kita sepakat bahwa kemajuan teknologi digital telah mengubah cara pandang dan juga hidup. Mulai dari cara kita bekerja hingga berbelanja, banyak pola yang telah diubah seiring dengan berkembangnya teknologi.

Namun, apakah kita sadar di balik cahaya layar yang menawarkan banyak kesenangan, justru tersirat kegelapan yang menggerogoti moralitas secara perlahan? Sejatinya era digital bukan sekadar membawa revolusi informasi, tetapi juga membuat nilai-nilai moral dan sosial terdegradasi.

Saat ini, generasi kita tumbuh dengan maraknya kekerasan verbal di media sosial, tutur kata yang tidak santun, konten vulgar, dan budaya viral yang nihil substansi ilmu pengetahuan. Akankah kita tiba pada masa dimana menilai baik dan buruk itu tidak dengan nurani, tetapi berdasarkan jumlah like dan followers?

Ironisnya, degradasi moral di media sosial ini seolah sudah dinormalisasikan. Yang mengikuti dianggap up to date, sementara yang diam dianggap ketinggalan zaman.

Orang tua lepas tangan, pendidikan formal terjebak kurikulum kaku, dan negara lebih sibuk mengawasi kritik ketimbang memperbaiki kualitas literasi digital rakyatnya menjadi lebih baik.

Alhasil, moralitas kini terpinggirkan, ditinggalkan oleh masyarakat yang terpikat pada kecepatan dan juga kemajuan, tetapi kehilangan kedalaman. Lebih tertarik pada konten viral dan kehidupan selebriti daripada mempertanyakan eksistensi dirinya sendiri. Lebih tergerak untuk mengetik ujaran kotor dan sengit ketimbang berdiskusi menggunakan bahasa tinggi yang dibalut dengan diksi.

Kita tidak bisa lagi menunggu. Belum terlambat bagi kita untuk kembali memaknai kemajuan sebagai jalan menuju peradaban yang lebih baik, bukan sekadar kemudahan. Sudah saatnya kita turun aksi bukan untuk mengutuk teknologi, tetapi untuk memanfaatkannya dengan menggunakan nalar dan nurani.

Anisa Triani telah berkontribusi pada penulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Jika 116 Kasus Belum Cukup Menggerakkan Kita, Lalu Berapa Lagi?

26 February 2026 - 10:09 WIB

Mengungkap Akar Masalah Bencana Banjir Di Pulau Sumatera : Ketika Bencana Ekologis Dibangun Pelan-Pelan oleh Kebijakan Sendiri

9 December 2025 - 10:16 WIB

Rawannya Penggunaan Narkoba Dikalangan Remaja

30 October 2025 - 17:37 WIB

Bubarkan DPR: Solusi Rakyat atau Masalah Baru?

6 October 2025 - 18:00 WIB

TNI Di Kampus: Sinergi Ilmu atau Ancaman Kebebasan Akademik?

1 October 2025 - 13:29 WIB

Trending on Opini